Have fun and enjoy yourself

Wednesday, June 19, 2013

Man Of Steel: Not Your Family-Friendly Superman



Superman sudah menjadi sebuah cultural icon sejak 75 tahun yang lalu, ketika pada tahun 1938 dipublikasikan pertama kali oleh Detective Comics, Inc. (kemudian berganti nama menjadi DC Comics). Karakter ini diciptakan oleh Jerry Siegel dan Joe Shuster lima tahun sebelumnya (1933) ketika mereka masih menjadi pelajar SMA di Cleveland, Ohio. Ketika pertama kali diciptakan, Superman diilustrasikan sebagai tokoh antagonis botak yang memiliki kekuatan telepati dan ingin menguasai dunia (image yang kini dimiliki oleh Lex Luthor). Cerita pendek itu diberi judul “The Reign of the Superman”. Di tahun yang sama, Siegel dan Shuster mengubah konsep itu sehingga Superman menjadi tokoh superhero protagonis seperti yang kita kenal sekarang.

 
Sejak dipublikasikan pada bulan Juni 1938 pada Action Comics #1 oleh Detective Comics, Inc., Superman mewabah ke seluruh dunia dalam bentuk komik, serial radio, serial televisi, film bioskop, hingga video games. Pengaruh The Great Depression pada tahun 1930-an jelas sekali terlihat pada kisah-kisah komik pertama Superman. Waktu itu, penduduk Amerika membutuhkan sosok yang dapat menjadi role-model dalam menghadapi permasalahan sosial sehari-hari. Oleh karena itu, kisah-kisah Superman seringkali menyoroti problematika sosial di masyarakat. Kalau kisah-kisah Batman lebih menyoroti aspek korupsi di penegakan hukum, Superman lebih menekankan pada problem sosial yang makro seperti rasialisme, kemiskinan, ilmu pengetahuan, nasionalisme, dan sebagainya
 
 
“Truth, Justice, and the American Way” seolah menjadi identik dengan sosok Superman. Namun sebenarnya Siegel dan Shuster pada awalnya lebih mengkaitkan persona Superman dengan agama yang dianut mereka, yaitu Yahudi. Superman diilustrasikan dikirim oleh orang tua kandungnya di dalam suatu wahana, yang dikirimkan ke Bumi untuk diasuh oleh orang tua angkat. Seperti halnya Nabi Musa yang dilarungkan dengan keranjang oleh ibunya di Sungai Nil, kemudian ditemukan dan diasuh oleh orang tua angkatnya.
 
Dalam kisah awalnya, Siegel dan Shuster menggambarkan kepribadian Superman sebagai kasar dan agresif. Superman tak segan-segan menggunakan kekuatannya untuk melempar dan memukul penjahat, tak memikirkan konsekuensi lanjutan apakah penjahat itu mati atau tidak. Tapi di tahun 1940-an, editor Whitney Ellsworth kemudian memperhalus kepribadian Superman menjadi lebih egalitarian dan humanitarian. Selama puluhan tahun berikutnya, Superman dilukiskan memiliki hati yang baik, rasa keadilan yang tinggi, standar moral di atas rata-rata, dan selalu bersikap positif serta tidak pernah mau membunuh lawannya. Julukannya pada saat itu adalah “The Big Blue Boy Scout”. Saking lurusnya sikap Superman, seringkali ia berselisih paham dengan kawan-kawan superhero yang lain. Dalam film-film Superman yang dibintangi oleh Kirk Alyn, George Reeves, hingga Christopher Reeve, tak pernah satupun adegan yang menunjukkan Superman membunuh lawannya. Untuk meluruskan adegan akhir di Superman II, Richard Lester bahkan menyertakan additional scene yang menunjukkan bahwa Zod, Ursa, dan Non tidak mati melainkan hanya kehilangan kekuatan supernya dan ditahan oleh Polisi Arktik.

 
Namun seiring perkembangan jaman, oleh DC Comics sifat-sifat Superman itu sedikit demi sedikit disesuaikan dengan kondisi yang ada. Apabila pada tahun 1930-an Amerika berhadapan dengan The Great Depression, maka sekarang Amerika berkutat dengan dunia pasca 9/11, dengan permasalahan dunia yang makin kompleks. Hal inilah yang digambarkan dalam film Man of Steel, karya sutradara Zack Snyder (Watchmen, 300, Sucker Punch). Naskahnya ditulis oleh David S. Goyer, dan produsernya adalah Christopher Nolan, yang telah sukses dipercaya oleh DC Comics untuk mereboot kisah Batman dalam trilogy Dark Knight yang fenomenal itu. Kesuksesan Nolan mengisahkan ulang Batman telah meyakinkan DC Comics untuk mempercayakannya dalam mengulang kisah Superman. Namun karena Nolan menolak untuk menyutradarainya, maka kursi Sutradara diserahkan ke Snyder yang sukses menyutradarai Watchmen, yang juga di bawah bendera DC Comics.
 
Kombinasi Snyder dan Nolan itu menghasilkan Man of Steel, yang menurut saya menjadi sebuah pengalaman baru untuk para penggemar Superman. Mengapa pengalaman baru? Karena walaupun masih dalam pakem cerita komiknya, namun terdapat banyak elemen yang dirombak oleh Nolan dan Goyer selaku produser dan penulis naskah sehingga tak pelak membuat para penggemar Superman ternganga. Dan ini bukan semata special efek di paruh kedua yang over the top, sehingga membuat penonton seperti menaiki roller-coaster yang tidak berhenti-berhenti. Dan juga bukan masalah “celana dalam” Superman yang dipakai di luar atau di dalam, karena kalau cuma masalah itu justru Snyder sangat mengacu pada komik The New 52, yang sejak tahun 2011 menampilkan Superman tanpa “celana dalam” di luar.


Pengalaman baru pertama yang langsung terasa ketika menonton Man of Steel adalah musiknya. Hans Zimmer benar-benar all out untuk dapat mengimbangi klasiknya tema Superman gubahan John Williams pada film Richard Donner. Bahkan Zimmer menyebut pekerjaan ini sangat mengintimidasi dirinya. Oleh karenanya ia tak tanggung-tanggung menggunakan teknologi terbaru yang memungkinkan untuk didengar dengan headphone biasa namun dengan kualitas surround, dinamakan DTS Headphone:X. Bahkan tak cukup hanya dengan 2 timpani, Zimmer menggunakan 10 drummer (termasuk Jason Bonham) yang kesepuluhnya direkam bersamaan dalam bentuk melingkar, sehingga memunculkan efek surround yang maksimal. Maka hasilnya pun menjadi luar biasa dahsyat, baik itu di bioskop maupun ketika didengarkan di headphone.

 
Sedangkan dari segi cerita, berbagai elemen Superman yang dimodifikasi oleh Nolan dan Goyer dalam Man of Steel antara lain:

Mengangkat kisah Jor-El (Russell Crowe) yang lebih “heroik” dibandingkan dengan penggambaran dalam film-film sebelumnya, termasuk di serial Smallville. Kalau sebelumnya Jor-El hanya digambarkan sebagai ilmuwan tua, namun kali ini dia digambarkan memiliki kemampuan militeristik sehingga dapat mengalahkan pasukan Zod (Michael Shannon).

 
Kal-El (Henry Cavill) adalah anak Jor-El dan Lara Lor-Van (Ayelet Zurer), warga pertama Krypton sejak ratusan tahun yang dilahirkan secara alamiah. Anak-anak lainnya di Krypton dilahirkan dengan rekayasa genetis, dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan oleh Council (para tetua Krypton). Tujuan hidup itu dicetak dengan menggunakan Codex (DNA seluruh penduduk Krypton yang tersimpan di dalam tengkorak leluhur mereka). Dengan demikian, karena terlahir alami, Kal-El memiliki kemampuan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
 
Motivasi General Zod untuk kudeta adalah mengambil alih Codex dan The Genesis Chamber, yang berisikan bayi-bayi Krypton hasil rekayasa genetis, untuk memilah-milah siapa saja yang akan menjadi pengikutnya dalam membangun dan meneruskan peradaban Krypton yang baru di tempat lain. Sebuah cita-cita yang tidak salah, tapi dengan cara yang salah.
 
Dua orang tangan kanan Zod bukanlah Ursa dan Non seperti di film Superman II karya Richard Lester, namun Faora Hu-Ul dan Nam-Ek. Faora diperankan oleh aktris Jerman Antje Traue, dan di film ini perannya cukup mencuri perhatian. Sementara Nam-Ek adalah ilmuwan Krypton yang mencampur gennya sendiri dengan gen Rondor Beast (hewan Krypton yang terlihat di awal film), sehingga tubuhnya menjadi raksasa.

 
Alasan Kal-El dikirim ke Bumi adalah melanjutkan atau membangun kembali peradaban Krypton dengan dibekali Codex. Namun sebelum ia dapat mewujudkan itu, Kal-El harus memahami terlebih dahulu segala aspek kehidupan di Bumi, sehingga pada saatnya nanti ia dapat menjadi penghubung/jembatan antara dua dunia.
 
Fortress of Solitude tak lagi berupa benteng (seperti halnya komik) atau rumah kristal buatan (seperti film Richard Donner) di Kutub Utara, namun berupa pesawat Scout (penjelajah) Krypton yang telah terdampar di Bumi sejak 20.000 tahun lalu. Pada komik pendahuluan yang diterbitkan sebelum peluncuran Man of Steel, dikisahkan bahwa pesawat tersebut dikomandoi oleh Kara, sepupu Kal-El. Di tengah penjelajahan untuk mencari kehidupan planet lain, Kara diserang oleh seorang Kryptonian jahat bernama Dev-Em yang menyusup ke dalam pesawatnya. Karena perkelahian Kara dan Dev-Em itu, pesawat mengalami kerusakan hingga akhirnya terdampar di Kawasan Arktik. Nasib Kara dan Dev-Em tak diketahui lagi setelah peristiwa itu. Di Man of Steel, ditunjukkan bahwa salah satu pod dalam pesawat itu terbuka. Mungkinkah Kara masih hidup? Oh ya, Kara di komik juga dikenal dengan nama Supergirl.



Seperti halnya Kara dan Scout Shipnya, Kryptonian lain juga ditugaskan untuk memulai peradaban Krypton di planet lain, mengingat Krypton sendiri menghadapi kehancuran. Untuk itu, masing-masing Scout Ship dibekali dengan Genesis Chamber yang berisikan bayi-bayi yang telah “dicetak”, dan juga  World Machine yang berfungsi untuk terraforming, merekayasa atmosfer planet tujuan agar sama dengan Krypton.


Kekuatan Clark di Bumi juga diperoleh secara gradual, seiring dengan proses pertumbuhannya. Dan orang tua angkatnya memegang peranan sangat penting dalam mengajarkan kepada Clark bagaimana cara mengendalikan kekuatannya yang semula tak terkontrol. Ibu angkatnya, Martha, melatih Clark untuk mengasah dan memfokuskan inderanya yang super sensitif. Lebih jauh lagi, ayah angkat Clark mengajarkan untuk menahan diri tidak menggunakan kekuatan supernya for a greater good, sampai semua orang siap menerimanya. Sang ayah angkat, Jonathan Kent (Kevin Costner), tidak meninggal karena serangan jantung seperti di komik atau film-film sebelumnya, namun kematiannya di sini lebih dramatis dan menentukan langkah hidup Clark Kent selanjutnya.


 
Dan berbicara mengenai kelemahan Superman, di komik dan film-film sebelumnya, Kal-El atau Superman dikisahkan dapat melemah karena Kryptonite. Namun dalam Man of Steel proses pelemahan Superman itu digambarkan dengan lebih ilmiah dan masuk akal. Kal-El sudah hidup puluhan tahun di Bumi, sehingga anatomi tubuhnya sudah beradaptasi dengan atmosfer Bumi yang lebih tipis dari Krypton. Ketika Kal-El dewasa dan memasuki pesawat Zod yang atmosfernya diset sama dengan Krypton, tubuh Kal-El pun menjadi lemah karena harus beradaptasi kembali dengan atmosfer tersebut. Dalam scene lain, Martha Kent (Diane Lane) juga menceritakan bahwa ketika pertama kali mendarat di Bumi, bayi Kal-El/Clark mengalami kesulitan bernafas karena tubuhnya menyesuaikan diri dengan atmosfer Bumi.
 
Berbeda dengan niatan Siegel dan Shuster yang mengilustrasikan Superman seperti Nabi Musa, Nolan dan Goyer lebih mengasosiasikan Kal-El dengan Yesus. Ketika General Zod datang ke Bumi, dikisahkan bahwa Kal-El telah berada di Bumi selama 33 tahun. Semua tahu bahwa 33 tahun adalah umur Yesus ketika harus mengorbankan diri dengan disiksa dan disalib. Proses penyerahan diri Kal-El ke militer untuk diserahkan ke Zod serupa dengan proses penyerahan Yesus ke otoritas Romawi. Lebih jauh lagi, yang mendampingi Kal-El adalah Ibu angkatnya dan Lois Lane (Amy Adams). Lois Lane tidak digambarkan memiliki rambut hitam seperti di komik, tapi merah seperti Maria Magdalena.


Di Man of Steel, Lois Lane mengenal Clark sebagai Kal-El dan Superman. Hal ini tentu merombak tradisi di komik, yang berakibat ada cinta segitiga antara Clark-Lois-Superman. Dan hal ini juga menjawab semua pertanyaan para penggemar dari dulu, yaitu “Kenapa Lois tak dapat mengenali Superman yang hanya memakai kacamata?”
 
Pada akhir film, Kal-El melakukan sesuatu yang selama ini bertentangan dengan jalan lurus Superman, yaitu membunuh. Hal ini juga menjadi kontroversi di kalangan penggemar Superman, karena Superman tidak pernah membunuh (dengan sengaja), seperti yang dicanangkan oleh sang editor Detective Comics Whitney Ellsworth pada tahun 1940-an. Bahkan Batman di trilogy Dark Knight-nya Nolan juga mempertahankan prinsip untuk tidak membunuh, dan berhasil. Kenapa Superman tidak bisa?


Dalam hal ini juga dipertanyakan begitu banyaknya body count (kematian) dari warga Metropolis akibat World Machine milik Zod, seolah Kal-El tidak dapat berbuat apapun untuk mencegahnya. Kal-El hanya menyelamatkan satu orang saja dengan sengaja, yaitu Lois. Terus terang untuk saya ini masih cukup mengganjal, disamping juga adegan klimaks antara Kal-El dan Zod yang cukup melelahkan penonton (khususnya saya).

Adegan-adegan di atas adalah inovasi dari Goyer, Nolan, dan juga Snyder yang pasti menimbulkan berbagai kontroversi khususnya untuk penggemar Superman. Namun demikian, hal serupa juga dialami oleh trilogy Dark Knight yang waktu itu juga sempat menimbulkan kontroversi, walau tak sebanyak Man of Steel. Yang jelas, Snyder, Goyer, dan Nolan kini sudah mulai bekerja untuk membuat sekuelnya.

Di Man of Steel, Snyder juga menghadirkan beberapa tokoh yang hadir baik sebagai cameo atau potensial untuk dimunculkan dalam sekuelnya, baik Superman sendiri maupun Justice League (yang rumornya akan tayang pada 2015):

Pada awal film dikisahkan Krypton dengan lebih mendetil, termasuk sebuah bulan yang terlihat hancur di latar belakang scene Krypton. Walaupun di film tak diceritakan bagaimana bulan itu hancur, namun penggemar komik Superman pasti tahu bahwa bulan itu adalah Wegthur, salah satu bulan Krypton yang hancur akibat eksperimen nuklir Jax-Ur. Jax-Ur (Mackenzie Gray) di Man of Steel adalah ilmuwan yang meneliti Kal-El ketika berada di dalam pesawat Zod.


Halusinasi yang dialami oleh Kal-El juga adalah hasil kerja dari Jax-Ur, yang menggunakan Bloodmorel, sejenis jamur yang tumbuh di bebatuan Krypton.


Di scene awal film itu juga diperkenalkan Kelex dan Kelor, android asisten Jor-El yang membantu pelariannya dari Zod. Kelex pada akhirnya hancur bersama Krypton, namun di komik diceritakan ia dibuat kembali di Bumi sebagai “butler” Kal-El di Fortress of Solitude.


Para tokoh-tokoh manusia yang ikut berperang melawan Zod dan pasukannya antara lain Lt. General Swanwick (Harry Lennix), Colonel Hardy (Christopher Meloni) dan Dr. Emil Hamilton (Richard Schiff). Dr. Hamilton adalah pimpinan dari S.T.A.R Labs yang memiliki peran penting di komik Superman dan Justice League, termasuk membuat salah satu anggota Justice League yaitu Cyborg. Sayang sekali tidak dimunculkan General Lane, ayah dari Lois.
 
 
Seperti yang diungkapkan Snyder sebelum tayang perdana, di salah satu satelit yang dihancurkan oleh General Zod terdapat logo Wayne Enterprises milik Bruce Wayne. Ini berarti Batman berada di dalam universe yang sama dengan Man of Steel.
 
 
Ketika adegan klimaks Kal-El dan Zod, sempat terlihat tanda “Blaze Comics” di antara gedung-gedung bertingkat. Penggemar komik pasti tahu bahwa Blaze Comics ini terkait erat dengan Booster Gold, superhero yang datang dari masa depan dan menjadi salah satu anggota Justice League.
 
 
Dalam suatu adegan yang menampilkan langit Metropolis yang penuh serpihan api, salah satu gedung terdapat tulisan “LEXCORP”. LEXCORP adalah perusahaan milik Lex Luthor, musuh abadi Superman. Tentu saja ini merupakan potensial sekuel, mengingat di akhir film ini Clark juga sudah mulai menetap di Metropolis sebagai reporter Daily Planet. Logo LEXCORP juga muncul lagi menjelang akhir film ketika adegan klimaks Kal-El dan Zod.
 
 
Dan sang Lex Luthor sendiri juga terlihat ketika proses evakuasi.

 
Selain easter eggs di atas, masih ada lagi beberapa scene yang menunjukkan keterkaitan dengan tokoh-tokoh DC Comics lainnya, antara lain Utopia Casino milik Tony Gallo (yang membawa Kryptonite pertama kali ke Metropolis), Sullivan’s Truck & Tractor Repair (milik ayah Chloe Sullivan), dan Ezra’s Mail Depot (milik Ezra Small, pendiri kota Smallville).
 
Overall, sekali lagi ini merupakan pengalaman baru bagi penggemar Superman. Konsepnya adalah retelling (menceritakan kembali) dan seperti halnya trilogy Dark Knight tidak harus sesuai dengan komik dan juga film-film sebelumnya. Oleh karena itu, bagi penggemar Superman sebenarnya tidak ada alasan apapun di dunia ini untuk tidak menyukai film ini. Lebih luas lagi, film ini ditujukan untuk semua orang yang memiliki perasaan berbeda dengan dunia sekitarnya, dan berkeinginan untuk memberikan semua hal yang istimewa untuk orang-orang yang disayangi.

Thursday, May 16, 2013

Into Darkness: A Militarized Star Trek

 


Dunia Star Trek diciptakan oleh Gene Roddenberry, yang diawalinya dengan pembuatan proposal pada tahun 1964, berjudul awal “Wagon Train to the Stars”. Konsep ceritanya dibuat berdasarkan model novel “Gulliver’s Travel” karya Jonathan Swift, yang menggabungkan cerita petualangan suspense dan kisah moral.
 
Proposal Roddenberry itu kemudian disambut oleh NBC, yang kemudian diaplikasikan dalam serial televisi Star Trek pada tahun 1966. Sejak itu dimulailah berbagai saga Star Trek baik dalam bentuk serial live action, animasi, layar lebar, dan bahkan novel. Serial-serial TV yang kita kenal antara lain Star Trek: The Original Series, Star Trek: The Animated Series, Star Trek: The Next Generation, Star Trek: Deep Space Nine, Star Trek: Voyager, dan Star Trek: Enterprise. Film-film layar lebarnya yang berjumlah tak kurang dari 12 buah, juga tak kalah dalam membentuk mitos-mitos di seputar franchise ini.
 
Kisah-kisah Star Trek berputar di sekitar petualangan manusia dan aliens yang berada di Starfleet, sebuah organisasi humanitarian penjaga perdamaian di kawasan United Federation of Planets. Oleh karena Roddenberry menggambarkan dunia yang utopis, maka tokoh-tokoh utamanya juga dikisahkan menganut paham altruistic, yaitu sebuah paham dimana semua makhluk saling memberi sehingga tidak ada yang merasa kekurangan secara materi. Altruistic adalah kebalikan dari sifat egoistis, dan tokoh-tokoh di Star Trek harus menerapkan paham itu dalam segala hal, walau seringkali menghadapi situasi dan kondisi yang dilematis. Konflik dan pertikaian politis yang terjadi di Star Trek juga menggambarkan berbagai kultur yang terjadi di dunia nyata, antara lain: peperangan, kesetiaan, otoritarianisme, imperialisme, pertikaian kelas, ekonomi, rasisme, religi, Vietnam, dan juga politik. Roddenberry menginginkan Star Trek untuk menggambarkan the next step of human evolution, dimana manusia telah belajar dari kesalahannya di masa lalu dan mengakhiri kekejaman dalam bentuk apapun. Hal ini digambarkan antara lain dengan Vulcans, yang dulunya merupakan bangsa yang kejam namun sudah berubah dengan cara mengontrol emosinya. United Federation of Planets juga merupakan angan-angan Roddenberry tentang bentuk yang ideal dan optimis dari United Nations atau PBB. Bhinneka Tunggal Ika.
 
Selama 43 tahun, konsep Roddenberry yang demikian berusaha dipertahankan di semua franchise-nya baik di serial-serial TV, animasi, maupun layar lebarnya. Namun ternyata hal ini berbanding terbalik dengan popularitas franchise tersebut. Star Trek: Enterprise bahkan hanya bisa bertahan selama 4 season, jauh menurun dibanding serial-serial TV pendahulunya. Film layar lebar Star Trek: Nemesis juga jeblok dalam hal pendapatan, sehingga Paramount harus memutar otak untuk menggenjot rating franchise ini. Beberapa naskah dari Bryan Singer, J. Michael Stracynzski, Jonathan Frakes, dan William Shatner (pemeran James T. Kirk pada Original Series) ditolak mentah-mentah oleh Paramount. Pada akhirnya, proyek reboot Star Trek diserahkan ke Tim Kreatif yang baru yang digawangi oleh JJ Abrams, Roberto Orci, dan Alex Kurtzman. Mereka diserahi otoritas penuh untuk mereka ulang kisah Star Trek.
 
Hampir semua orang tahu bahwa JJ Abrams adalah penggemar Star Wars, bukan Star Trek. Oleh karena itu, target pemasaran dari proyek reboot ini bukanlah penggemar Star Trek tapi justru untuk non-fans. Iklan-iklan yang beredar waktu itu juga “this is not your father’s Star Trek”. Maka banyak fans Star Trek mengatakan bahwa Star Trek karya JJ Abrams bukanlah Star Trek-nya Roddenberry, karena tidak ada penggambaran dunia utopis seperti yang diangankan oleh Roddenberry. Ini adalah dunia alternatif dari Star Trek, dimana sifat-sifat altruistis tak berlaku dan sifat manusia di masa depan sama saja dengan manusia sekarang.
 
Hal ini kemudian ditegaskan oleh JJ Abrams di film Star Trek-nya yang kedua, diberi judul Star Trek: Into Darkness. Berkat JJ Abrams, memang Star Trek mulai naik daun lagi. Naskah film Into Darkness ditulis oleh Damon Lindelof, Roberto Urci, dan Alex Kurtzman, menghadirkan deretan cast yang sama dengan film pertamanya, ditambah dengan Benedict Cumberbatch, Peter Weller, serta Alice Eve yang masing-masing memiliki peran sentral yang juga terhubung dengan Star Trek: Original Series. Walaupun Abrams memiliki kebiasaan untuk merahasiakan naskah dan plot twist, namun rasa-rasanya semua orang sudah bisa menebak siapa tokoh antagonis yang diperankan oleh Cumberbatch. Dan nothing wrong with that, bahkan menurut saya plot untuk peran antagonis ini disajikan secara menarik dengan cara menyarikan beberapa episode terbaik Star Trek: Original Series. Cumberbatch juga berhasil mempesona penonton dengan kharisma dan intelejensianya, sehingga tokoh yang diperankan benar-benar menjadi rival abadi.
 
 
Chris Pine dan Zachary Quinto secara sukses menghidupkan kembali tokoh Kirk dan Spock yang dulu diperankan William Shatner dan Leonard Nimoy (walaupun Nimoy sekali lagi masih muncul sebagai The Old Spock seperti film yang pertama). Chemistry di antara keduanya juga memberikan nuansa yang menyentuh di akhir film, ketika salah satu dari mereka harus mengorbankan dirinya demi menyelamatkan yang lain. Bromance antara Kirk-Spock itu bahkan mengalahkan drama percintaan antar spesies antara Spock dan Uhura.
 
 
Namun diantara berbagai tribute kepada Original Series itu, tak salah jika merasa bahwa kini Star Trek sudah lebih menjurus ke arah militerisasi. Dengan special effect yang tak kalah canggih dari film pertamanya, terutama dengan trademark lens flare, Abrams seolah memberi pernyataan bahwa inilah film Star Trek yang dibuat oleh penggemar Star Wars. Misi Starfleet yang bersifat diplomatis, scientific, eksplorasi dunia baru dan menyelesaikan masalah secara damai (“to boldly go where no man has gone before”), kini digantikan oleh misi militeristik untuk memburu satu orang teroris dengan semua senjata yang dimiliki, dimana akibat perburuan itu adalah potensi perang dengan bangsa Klingon. Satir politik terhadap US-Afghanistan memang, tapi mungkin akan lebih tepat jika Abrams menggunakan naskah ini untuk Star Wars Episode VII yang akan disutradarainya nanti. Atau jangan-jangan memang Abrams sedang menggunakan Star Trek sebagai eksperimen untuk Star Wars? Apalagi special effect-nya ditangani oleh Industrial Lights & Magic milik George Lucas.
 
Star Trek: Into Darkness secara konsep memang tidak lebih baik dari film sebelumnya, namun telah memberi warna sendiri terhadap franchise Star Trek secara keseluruhan. Saya berharap film Star Trek tak berhenti sampai disini, dan Into Darkness hanya berfungsi sebagai penghubung film sebelumnya dengan dunia Star Trek yang diangankan oleh Gene Roddenberry.

Monday, May 6, 2013

Iron Man 3: Disney’s Stark


Sebenarnya saya ingin menulis review ini sejak seminggu yang lalu, setelah menonton filmnya pada saat premiernya di Indonesia, 25 April 2013. Tapi saya merasa kurang sreg apabila mereviewnya tanpa membahas beberapa detil dari Iron Man 3. Dengan kata lain, mau nggak mau saya harus mengungkap beberapa spoiler. Jadi bagi pembaca yang tidak ingin membaca mild spoiler tersebut, saya sarankan untuk berhenti membaca post ini disini.
 
Iron Man 3 disutradarai oleh Shane Black, yang selama ini terkenal sebagai screenwriter untuk berbagai film-film ternama antara lain Lethal Weapon, Lethal Weapon 2, The Last Boy Scout, Last Action Hero, dan The Long Kiss Goodnight. Black pernah juga berakting sebagai peran pembantu dalam film Predator (1987). Sebelum Iron Man 3, dia hanya pernah menyutradarai satu film saja yaitu Kiss Kiss Bang Bang (2005) yang juga dibintangi oleh Robert Downey Jr. Sudah rahasia umum bahwa atas rekomendasi RDJ yang sekarang menjadi anak emas Marvel Studios, maka Shane Black dapat menyutradarai Iron Man 3 setelah Jon Favreau mengundurkan diri.
 
Iron Man 3 adalah film kedua Marvel Studios setelah hak distribusinya dibeli oleh Walt Disney Studios dari Paramount. Yang pertama adalah The Avengers. Dasar ceritanya diambil dari beberapa cerita komik Iron Man antara lain Extremis, Invincible Iron Man, Armor Wars, dan Enter the Mandarin. Jajaran aktor film sebelumnya juga kembali: RDJ, Paltrow, Cheadle, Favreau, Bettany, ditambah dengan aktor-aktor kawakan Ben Kingsley, Guy Pearce, Rebecca Hall, William Sadler, Miguel Ferrer, James Badge Dale, dan Stephanie Szostak. Tak lupa, Stan Lee seperti biasa muncul sebagai cameo. Cameo lain adalah para pemain sepakbola Liverpool FC yang muncul pada salah satu adegan kunci.
 
Dari segi plot cerita, tampaknya Shane Black masih menggunakan formula yang sama seperti naskah-naskahnya sebelumnya: buddy movie dan penculikan. Tapi sebenarnya itu bukan masalah karena memang cirikhas Shane Black seperti itu. Yang jadi masalah sebenarnya adalah plot-holes dan inkonsistensi. Dan juga The Mandarin.
 
Memang kali ini Disney menggaet investor utama dari China, yaitu DMG Entertainment. Tak kurang dari 1 milyar Yuan (atau setara 158 juta US Dollar) digelontorkan oleh DMG untuk pembuatan Iron Man 3. Dan hal ini bukan hal yang baru di Hollywood. Looper yang dibuat tahun lalu juga menggunakan investor dari DMG Entertainment. Sementara remake The Karate Kid menggunakan investor perusahaan film milik Pemerintah China. Imbal balik dari investasi itu tentu penggunaan aktor-aktor dari China dan promosi budayanya. Dari kacamata marketing, China adalah pasar penikmat film yang sangat potensial.

 
Namun dalam kasus Iron Man 3, imbal baliknya tak hanya itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kerjasama Hollywood dan China, sebuah perusahaan China menginvestasikan ratusan juta dollar tak hanya untuk distribusi pemasaran, namun juga dalam hal produksi. Walhasil, pihak DMG berhasil memutar balik naskah film yang mendiskreditkan China sebagai pihak antagonis. Padahal musuh utama Iron Man di komik adalah The Mandarin, yang dari namanya saja sudah ketahuan kalau asal usulnya adalah dari China. Di komik, The Mandarin adalah ilmuwan China, menguasai martial art China kuno, keturunan Genghis Khan, dan mempunyai sepuluh cincin dengan kekuatan magis yang berbeda-beda. Layak disebut dengan supervillain.
 
Perubahan mendasar sudah mulai terasa ketika proses casting The Mandarin yang akhirnya memunculkan nama Ben Kingsley, yang notabene adalah aktor Inggris keturunan India. Walaupun saya tak meragukan kapabilitas aktor peraih Oscar dalam film Gandhi tersebut, namun pemilihan Kingsley sebagai The Mandarin tentu sempat membuat para penggemar komik mengernyitkan dahinya. Dan ketika menyaksikan filmnya, kernyitan dahi semua penggemar komik tersebut sepertinya benar-benar terbukti. DMG telah sukses membuat musuh abadi Iron Man menjadi sebuah lelucon yang menurut saya sama sekali tidak lucu.
 
Saya bisa memahami apabila Shane Black ingin menghindarkan kesan meniru plot cerita Batman Begins, yang secara brilian mengungkap identitas Ra’s Al Ghul yang sesungguhnya dengan plot twist yang mencengangkan. Tapi seharusnya Black dapat lebih menaruh respek pada sosok The Mandarin, bukannya menjadikannya sebagai tokoh yang fiktif dan membadut, dan membuat tokoh antagonis kelas dua seperti Aldrich Killian menjadi antagonis utama. Ya sekali lagi, ini mungkin di luar kuasa Black sebagai sutradara, karena seorang sutradara pun masih harus tunduk terhadap investor. Dan dalam hal ini investor tidak menginginkan The Mandarin menjadi musuh utama Iron Man. Dan investor juga menginginkan bahwa solusi dari semua permasalahan yang dihadapi oleh Stark adalah di China. Idealisme komik pun meluntur karena uang.
 
Namun yang sangat saya paling saya sayangkan bukan hal yang berada di luar kendali Shane Black, tapi justru yang sangat berada di bawah kendalinya yaitu konsistensi cerita dengan film-film Iron Man sebelumnya dan juga The Avengers. Misalnya saja mengenai armor atau baju besinya. Secara logika, teknologi yang kini dikuasai Stark seharusnya lebih maju, apalagi dengan adanya teknologi alien Chitauri yang berserakan di New York dimana bisa dilakukan reverse-engineering. Ternyata di film ini, armor Iron Man tidak kuat menahan suhu 3000 derajat. Padahal sebelumnya, Iron Man bisa menerima petir Thor yang suhunya 30.000 derajat, bahkan meningkatkan kekuatannya hingga 400%. Armor War Machine atau Iron Patriot juga langsung rusak ketika disentuh oleh seorang yang terinfeksi virus Extremis. Armor Iron Man yang bisa menghancurkan monster raksasa Chitauri dari dalam itu ternyata juga sangat gampang dirobek dan dibelah oleh pasukan Killian yang terinfeksi virus Extremis, bahkan Mark XLII dapat hancur berantakan hanya gara-gara ditabrak oleh truk.
 
Inkonsistensi lain, seperti:
 
Mengapa J.A.R.V.I.S yang sudah sedemikian canggihnya, hanya diam saja ketika ada misil yang mengarah ke rumah Stark di Malibu? Sebagai catatan tambahan, saya kehilangan J.A.R.V.I.S yang seringkali saling menyindir dengan Stark di Iron Man, Iron Man 2, dan The Avengers. J.A.R.V.I.S di Iron Man 3 tak ubahnya seperti komputer biasa yang membosankan.
 
Mengapa sepanjang film Stark hanya berkutat memperbaiki Mark XLII, padahal ia tahu bahwa di basement rumahnya masih tersimpan puluhan armor-nya?

 
Mengapa power dari J.A.R.V.I.S dan armor Mark XLII itu cepat sekali habis, sehingga harus di-charge seperti HP? Bukankah Stark di The Avengers sudah mengembangkan clean energy yang memperbaharui diri secara otomatis? Apalagi dari puluhan armor Stark yang muncul di akhir film ada Godkiller dan Space Armor yang digunakan untuk mengarungi luar angkasa tanpa adanya sumber energi.
 
Maya Hansen telah 13 tahun bekerja dengan Aldrich Killian dan A.I.M (Advanced Idea Mechanics) untuk mengembangkan virus Extremis dan mengujicobakannya terhadap manusia. Mengapa ia berubah pikiran dengan tiba-tiba, sehingga tanpa ba-bi-bu tiba-tiba mengetuk pintu rumah Stark dan memperingatkannya tentang Killian?
 
Tidak ada ID check terhadap Iron Patriot ketika akan memasuki Air Force One bersama Presiden Ellis. Padahal Iron Patriot tak hanya didesign untuk dipakai oleh Lt. Col. James Rhodes sendiri. Begitu parahnyakah sistem keamanan intelejen US? Oh ya dan adegan Presiden memakai armor Iron Patriot itu benar-benar absurd.
 
Dan ending film ini seolah menimbulkan banyak pertanyaan. Stark menyebutkan bahwa dia berhasil menyembuhkan Pepper. Bagaimana caranya? Stark juga dikisahkan menjalani operasi di China untuk mengangkat pecahan-pecahan bom di dadanya, sekaligus menyingkirkan arc reactor yang selama ini membuatnya hidup. Dokter yang mengoperasinya sudah dikenal Stark sejak konvensi di Bern tahun 1999. Kalau memang demikian, kenapa Stark tidak melakukan operasi sejak film yang pertama? Apalagi di film kedua ia harus sekarat karena teracuni arc reactor di dadanya itu.

Terlepas dari investor (Disney dan DMG Entertainment) yang memegang alur cerita, hal-hal detil semacam itu seharusnya lebih diperhatikan oleh Shane Black dan Marvel Studios.
 
Salah satu alur cerita komik Iron Man yang paling terkenal adalah Demon in a Bottle, yang mengisahkan ketergantungan Tony Stark terhadap alkohol. Jon Favreau sudah berani menampilkan beberapa adegan Stark yang mabuk di Iron Man 2, bahkan juga ketergantungan alkohol yang juga dialami oleh Howard Stark, ayah Tony. Namun karena sudah diambil alih Disney, tentu sampai kapanpun tak akan pernah muncul seorang Tony Stark yang alkoholik. Instead, di Iron Man 3 hanya dikisahkan seorang Tony Stark dengan gejala posttraumatic stress disorder akibat kejadian wormhole di akhir film The Avengers. Mungkin stress itu lebih tepat jika dialami Captain America yang masih mengalami penyesuaian waktu setelah tertidur selama 70 tahun.
 
Dan tak seperti Iron Man 2, di film ini tak terdapat tanda-tanda kontinuitas ke Phase 2 dari The Avengers, seperti yang digembar-gemborkan Marvel Studios. Adegan di akhir credit pun hanya cameo yang tidak menunjukkan clue atau hint arah cerita ke film Marvel berikutnya. Dan yang menyedihkan, tidak ada lagi music rock yang dulunya menghiasi film-film Iron Man dan Iron Man 2, bahkan hingga The Avengers.
 
All in all, sebenarnya film Iron Man 3 tidak jelek, bahkan penuh dengan adegan fantastis cirikhas Marvel Studios. Apalagi tanggung jawab special effects dari Industrial Lights and Magic (ILM) telah beralih ke beberapa perusahaan sekaligus, yaitu Scanline VFX, Digital Domain, Weta Digital, Framestore, The Third Floor, dan Trixter Film, sehingga efek visual yang dihadirkan juga terasa lebih canggih.
 
Iron Man 3 bagi saya mungkin lebih cocok sebagai film stand-alone, tidak terkait dengan The Avengers Initiative maupun 2 film Iron Man pendahulunya. Bahkan menurut saya, malah cocok dijadikan serial TV yang alur ceritanya disingkat dan diburu-buru.
 
Fun, enjoyable, but forgettable.