Have fun and enjoy yourself

Sunday, October 25, 2009

NASA: Bagaikan Pungguk Merindukan Bulan


Bulan selalu menjadi pusat perhatian setiap manusia. Bukan hanya fungsinya sebagai penentu kalender bangsa-bangsa kuno (termasuk kalender Islam) ataupun bagian dari navigation tools, namun juga teka-teki asal-usul Bulan sampai sekarang masih diliputi misteri dan banyak menimbulkan tanya. Walaupun berbagai misi eksplorasi telah diluncurkan sejak tahun 1961, tak pelak masih banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab dari eksistensi Bulan. Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya sekarang sudah dapat terjawab oleh manusia, mengingat Bulan adalah objek langit yang terdekat jaraknya dari Bumi. Namun dengan teknologi yang sudah sedemikian canggih, mengapa manusia masih juga belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?

Tulisan ini mencoba untuk menelusuri kemungkinan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, dimulai dari awal keingintahuan penulis sendiri setelah membaca karya-karya dari H.G. Wells. Seperti halnya Jules Verne (1828-1905), H.G. Wells (1866-1946) adalah seorang visioner yang menghasilkan berbagai karya-karya novel science fiction yang abadi sepanjang masa, antara lain The First Men In The Moon, The Food Of The Gods And How It Came To Earth, The Invisible Man, The Island of Dr. Moreau, The Time Machine, The War Of The Worlds, dan berbagai karya science fiction lainnya. Sama halnya karya-karya Jules Verne yang melegenda, hampir seluruh visi dan karya H.G. Wells itu dihasilkan pada akhir abad ke-19, 100 tahun sebelum manusia benar-benar dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

Salah satu karya Wells yaitu “The Time Machine” telah dibuat filmnya dua kali tahun 1960 dan 2002, mengisahkan tentang seorang time traveller yang berkelana ke tahun 802.701 dan menemukan bahwa manusia sudah berevolusi kembali seperti masa prasejarah. Film versi tahun 2002 disutradarai oleh cucu sang novelis sendiri yaitu Simon Wells, yang melengkapi karya kakeknya dengan teori paradoks waktu. Dalam film ini, dikisahkan bahwa Alexander Hartdegen (Guy Pearce) berkelana melintasi waktu ke masa depan untuk mencari jawaban atas takdir kematian kekasihnya yang tak terelakkan. Yang penulis angkat disini adalah ketika tahun 2030 manusia mulai melakukan kolonisasi di Bulan. Namun demikian, pada tahun 2037 terjadi pemberontakan sehingga koloni manusia di Bulan dibom, akibatnya Bulan menjadi terbelah dan meluncur keluar dari orbitnya. Kehancuran Bulan mengakibatkan punahnya umat manusia sehingga kembali ke peradaban jaman batu yang primitif.



Karya Wells yang lain, “The First
Men in the Moon” juga pernah dibuat filmnya pada tahun 1919 dengan format film bisu dan hitam putih serta versi kedua pada tahun 1964, yang mengisahkan eksplorasi manusia pertama di bulan oleh Kerajaan Inggris pada tahun 1890, dan pertemuan dengan Selenites, makhluk asing penduduk bulan berwujud serangga yang tinggal di kota underground.

Terkait dengan novelisasi dari Wells itu maupun penulis sains-fiksi yang lain, tak dapat dipungkiri sebenarnya sudah sejak lama manusia ingin menginjakkan kakinya di Bulan. Pada periode tahun 50-an keinginan itu ditandai oleh “Space Race” antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, dimana masing-masing berlomba-lomba untuk melakukan perjalanan ruang angkasa ke bulan. Adalah Yuri Gagarin dari Uni Soviet yang pertama kali melakukan perjalanan di ruang angkasa, namun Neil Armstrong dan Edwin Aldrin dari Amerika Serikat lah yang pertama kali menginjakkan kakinya di Bulan dalam misi Apollo 11 pada tanggal 20 Juli 1969. Misi Bulan Soviet (Soviet Moonshot) sendiri terhenti di tengah jalan dengan dengan sebab tidak jelas, banyak yang mengatakan bahwa program tersebut telah memakan banyak korban jiwa kosmonot Soviet.

Setelah beberapa kali melakukan misi ke Bulan, proyek Apollo pun dihentikan oleh NASA pada tahun 1972 dengan alasan tidak tersedianya anggaran. Misi Apollo 18, 19, dan 20 yang telah direncanakan oleh NASA dengan detil tiba-tiba dibatalkan. Menurut penjelasan NASA waktu itu, ada pemotongan anggaran yang mengakibatkan anggaran yang ada dialokasikan untuk membuat pesawat ulang-alik yang lebih efisien. Namun demikian, sekarang ketika teknologi NASA sudah sedemikian maju dan beberapa pesawat ulang-alik sudah dibuat (Challenger, Enterprise, Atlantis, Columbia, Discovery, Endeavour), nampaknya NASA masih enggan untuk meneruskan misi ke Bulan yang terhenti di tengah jalan itu dengan teknologi yang sudah dicapai. Jadi apakah semata masalah anggaran yang mengakibatkan misi Apollo dibatalkan, sampai sekarang NASA tidak pernah mengungkapkannya. Apalagi anggaran untuk misi Apollo hanyalah 34% dari total keseluruhan anggaran NASA (www.nasa.gov). Tapi menurut sumber-sumber dari NASA, sebenarnya misi Apollo 18, 19, dan 20 tetap dijalankan, bahkan dengan bekerjasama dengan pihak Uni Soviet. Tujuannya sangat rahasia.

Walau demikian, dari misi-misi Apollo yang berhasil mendaratkan manusia di Bulan telah terkumpul berbagai obyek bebatuan dan mineral dari permukaan Bulan, dan kini tersimpan rapi di Museum Smithsonian. Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap obyek-obyek tersebut, dan menghasilkan berbagai teori mengenai terbentuknya Bulan:

Teori pertama adalah sebuah teori ‘resmi’ dari NASA. Obyek-obyek yang diteliti tersebut ternyata memiliki kesamaan komponen dengan komponen yang membentuk Bumi. Jadi disimpulkan bahwa pada suatu waktu dulu, Bulan terbentuk dari bagian Bumi yang terpecah, konon karena bertabrakan dengan benda langit yang lain. Sementara benda langit yang menabrak Bumi itu hancur berkeping-keping membentuk sabuk asteroid yang tersebar di antara planet Mars dan Jupiter.

Selain teori itu, masih ada teori-teori lain yang kontroversial. Konon pada masa lalu, manusia pernah mengalami masa kemajuan teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini. Teori ini terkait dengan berbagai legenda ancient civilization yang tersebar di dunia, yang akhirnya hancur (kemungkinan karena penguasaan teknologi yang maju dikombinasikan dengan keserakahan abadi umat manusia). Pada masa ancient civilization itu, produktivitas manusia sudah menjadi suatu keharusan, sehingga konsep siang-malam menjadi suatu hal yang dihindari. Manusia tidak mau kegelapan malam menjadi suatu hal yang menghalangi produktivitas mereka. Oleh karena itu, dengan kemajuan teknologi yang dimiliki, mereka membuat benda angkasa yang menjadi tiruan Matahari, ditempatkan dalam orbit Bumi sedemikian sehingga dapat menerangi bagian Bumi yang gelap. Benda angkasa tersebut bentuknya dibuat jauh lebih kecil dari Matahari dan Bumi. Rasio ukuran benda itu dengan Matahari adalah tepat 1:400, serta rasio jarak benda itu dengan Bumi dan jarak Bumi-Matahari juga 1:400. Dengan posisi penempatannya yang tepat itu, apabila benda itu dilihat dari Bumi seolah ukurannya menjadi sama dengan Matahari. Bagaimana mekanisme pencahayaannya ke Bumi, juga berhubungan dengan posisi benda itu. Dengan bahan khusus (menurut penelitian para ahli adalah Chromium, Titanium, dan Zirconium, yang dikombinasikan menjadi bahan yang anti karat, tahan panas, dan sangat tahan terhadap serangan/benturan apapun), permukaan benda itu dapat memantulkan cahaya Matahari dengan cahaya yang sama terangnya, bahkan sama menyilaukannya. Bedanya, benda ini tidak memancarkan panas seperti halnya Matahari. Sejak saat itu Bumi tidak mengenal istilah malam yang gelap. Siang disinari oleh Matahari, sedangkan malam disinari oleh benda buatan yang spektakuler itu. Sekarang, setelah beratus ribu tahun, bahkan mungkin jutaan tahun, benda itupun sudah diselubungi oleh debu-debu angkasa, sehingga cahaya matahari yang dipantulkan pun sudah redup, tidak terang benderang seperti ketika ia pertama kali dibuat. Benda itulah yang kita kenal sekarang sebagai Bulan. Salah satu fakta yang mendasari ini adalah bahwa semua kawah meteor di Bulan dangkal, tidak ada yang dalam. Hal itu sangat mustahil, apalagi mengingat Bulan tidak memiliki atmosfer seperti di Bumi yang menahan laju meteor yang jatuh di permukaannya. Juga orbit Bulan yang hampir bulat sempurna, tidak seperti planet-planet maupun obyek langit lainnya di tatasurya.

Selain teori Bulan buatan manusia, ada juga teori bahwa Bulan adalah satelit buatan makhluk asing yang sengaja ‘dibawa’ ke orbit Bumi. Dengan dasar teori yang hampir sama dengan teori Bulan buatan manusia, teori ini mengatakan bahwa Bulan ’diorbitkan’ di Bumi sekitar 11.500 hingga 13.000 tahun yang lalu, juga satelit planet Jupiter yang bernama Phobos yang memiliki karakteristik mirip dengan Bulan. Latar belakangnya adalah hieroglyph yang terdapat di Tihuanaco, Bolivia yang menyatakan demikian. Ditambah dengan informasi mengenai komponen Bulan yang dibawa oleh misi Apollo, menunjukkan bahwa Bulan telah berumur setidaknya 4,5 milyar tahun. Padahal batuan tertua di Bumi mengindikasikan bahwa Bumi baru berumur 3,7 milyar tahun. Hal inilah yang memunculkan hipotesis bahwa Bulan sengaja ’ditempatkan’ di orbit Bumi. Apakah tujuan itu, tidak ada yang tahu pasti. Terdapat dugaan bahwa Bulan berfungsi sebagai ’mata-mata’ bagi makhluk asing untuk mengamati kehidupan di Bumi. Ada juga dugaan lain sebagai space station, tempat persinggahan bagi makhluk asing. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Bulan pada waktunya nanti berfungsi seperti perahu Nabi Nuh, membawa contoh DNA dan berbagai makhluk bumi yang diperlukan untuk memulai dunia baru, ketika nanti Bumi mengalami kehancuran.

Konsep bulan buatan itu masih kontroversial, namun demikian bukan suatu hal yang mustahil. Dan teori itu juga terkait dengan teori lainnya yang disebut ”Hollow Moon”. Teori ini muncul berdasarkan analisis seismograf dari berbagai misi Apollo di Bulan, yang menunjukkan bahwa ketika modul-modul Apollo itu meninggalkan permukaan Bulan, muncul getaran di permukaan Bulan (moonquake) yang waktunya cukup lama, 55 menit. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila modul tersebut mendarat di permukaan yang solid. Getaran di permukaan solid memang muncul, tapi tidak selama ketika modul tersebut mendarat di Bulan. Getaran tersebut dianalogikan seperti ketika kita memukul kaleng susu. Ketika kaleng itu penuh berisi susu, maka getaran hanya muncul sebentar. Namun ketika kaleng itu dikosongkan, waktu getaran yang muncul menjadi lebih lama. Hal inilah yang menyimpulkan bahwa di dalam Bulan terdapat ruang kosong (hollow), sehingga kembali ke fantasi H.G. Wells di novel “The First Men in the Moon”. Benarkah di bawah permukaan Bulan terdapat suatu peradaban? Sampai sekarang tidak ada yang tahu (atau paling tidak, cuma ada beberapa orang/pihak yang tahu). Atau mungkinkah itu sebenarnya yang membuat NASA tiba-tiba membatalkan seluruh misinya ke Bulan pada tahun 1972?

Banyak sekali teori konspirasi yang beredar sejak tahun 70-an mengenai Bulan. Salah satunya adalah ”bocoran” foto-foto hasil eksplorasi misi Apollo dari orang dalam NASA bahwa di Bulan terdapat berbagai artifak kuno, menunjukkan bahwa dulu pernah ada peradaban (manusia atau bukan manusia) di permukaan Bulan. Dari foto-foto tersebut, mengindikasikan bahwa NASA melakukan rekayasa terhadap sebagian besar foto yang diambil oleh misi Apollo di Bulan, yang ternyata tidak semua berwarna abu-abu. Rekayasa tersebut dapat berupa penghapusan obyek, pengaburan (blurring) obyek, juga pengubahan warna obyek menjadi seluruhnya abu-abu.

Apabila benar, apa tujuan NASA melakukan rekayasa terhadap foto-foto itu? Dan lebih jauh lagi, apa sebenarnya yang membuat NASA ”ketakutan” sehingga meninggalkan misi Apollo secara tiba-tiba pada tahun 1972 silam? Tentunya tidak ada yang tahu jawaban pastinya selain para pejabat NASA dan juga pengambil kebijakan di atasnya, dengan kata lain pemerintah Amerika Serikat. Sekedar informasi tambahan, rumor yang beredar saat ini mengatakan bahwa sudah sejak lama NASA sudah berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata AS, bahkan dalam waktu dekat US Navy akan membangun stasiun angkasa luar (Naval Space Command) dengan bantuan tenaga ahli NASA. Hal ini menambah pertanyaan di benak penulis, apa kepentingan pembuatan stasiun luar angkasa oleh Angkatan Laut Amerika? Selain memunculkan pertanyaan, juga mengingatkan penulis pada serial Star Trek, dimana Starfleet berada dibawah kendali US Navy, sehingga setiap pesawat diberikan awalan nama ’USS’ seperti kapal laut Amerika Serikat. Penulis pernah mengungkapkan pada note terdahulu, HAARP adalah proyek di bawah kendali US Navy juga.

Di tengah hingar bingar kontroversi misi Apollo yang sampai sekarang masih belum jelas kebenarannya, juga keterkaitan NASA dengan pihak militer yang semakin hari semakin mengemuka, sejak tahun 1990 Jepang, Eropa, Russia, China, dan India telah meluncurkan misi non-awak ke Bulan untuk meneliti dan memetakan permukaannya secara detil. Prestasi menonjol ditorehkan oleh India dengan probe-nya yang dinamai Chandrayaan-I yang menemukan indikasi adanya banyak air di sisi kutub Bulan. Namun demikian, mengapa mereka tidak menggunakan teknologi pada misi Apollo (termasuk misi berawak), juga tak terjelaskan. NASA sendiri sebagai pemilik teknologi Apollo pada tahun 1994 malah juga kembali lagi mundur menggunakan misi non-awak Clementine. Namun yang menarik kali ini, sejak tahun 1994 itu semua proyek NASA ke Bulan didanai oleh militer AS.

Misi NASA ke Bulan yang baru-baru ini saja menghiasi media adalah LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite), sebuah misi ”kamikaze” dari probe NASA yang sengaja ditabrakkan ke permukaan Bulan, untuk mencitrakan pecahan permukaan Bulan dari hasil tumbukan yang terjadi, yang kemudian dilakukan analisis spektrum apakah dari pecahan permukaan Bulan tersebut ada indikasi komponen air atau tidak. LCROSS diterbangkan oleh NASA dengan roket Atlas V pada tanggal 18 Juni 2009, bersama dengan LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter, satelit yang diluncurkan untuk mengorbit Bulan). LCROSS sendiri terdiri dari dua probe. Satu probe berukuran lebih besar, dan probe yang kedua, dinamakan Centaur, berada di dalam probe pertama. Pada tanggal 9 Oktober 2009, Centaur ’ditembakkan’ oleh probe yang membawanya sehingga menabrak permukaan Bulan dengan dua kali kecepatan peluru (10.000 km/jam), menghasilkan kawah sedalam 4 meter. Probe pembawa yang berada di belakangnya kemudian memotret hasil tumbukan itu yang berupa debu-debu dan pecahan-pecahan batu, sebelum menabrakkan diri juga ke permukaan Bulan, menghasilkan kawah sedalam 2 meter. Hasil pemotretan/pencitraan itu kemudian dianalisis oleh ilmuwan NASA untuk meneliti kebenaran tentang keberadaan air di Bulan.

Banyak sekali protes yang menentang ’pengeboman’ terhadap Bulan ini. Umumnya protes dilakukan atas dasar ekologi, bahwa tidak seharusnya manusia merusak alam sedemikian rupa. Meski ilmuwan NASA berdalih bahwa misi ini tidak menggunakan bahan peledak, terutama karena adanya Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies (yang dibuat oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet) yang menyatakan bahwa Bulan harus bebas dari segala kegiatan militer. Namun pernyataan ini dinilai tidak sesuai dengan kenyataan, mengingat target ekskavasi dari hasil tumbukan LCROSS adalah sebanyak 350 ton tanah Bulan. Oleh karena itu, banyak pihak yang bersikukuh bahwa istilah ’pengeboman’ adalah istilah yang tepat, karena untuk mengangkat tanah sebanyak itu pasti membutuhkan bahan peledak yang cukup besar. Yang lebih menarik, setelah eksperimen senilai USD$79 juta tersebut dilaksanakan (dan disiarkan langsung oleh CNN serta beberapa stasiun TV internasional), penulis melihat bahwa terdapat beberapa keanehan yang terjadi selama dan sesudah proses penabrakan LCROSS. Antara lain minimnya informasi sebelum, selama, dan sesudah tumbukan LCROSS. Biasanya NASA menampilkan informasi yang sangat lengkap mengenai misi yang dijalankannya, namun entah kenapa untuk LCROSS ini informasi yang disajikan hanya sepotong-potong. Bahkan setengah jam sebelum tumbukan direncanakan untuk terjadi, terdapat Breaking News hampir di seluruh media televisi mengenai hadiah Nobel perdamaian untuk Presiden Barack Obama, yang tiba-tiba memenangkan penghargaan itu tanpa ada satu pihak pun yang menominasikan. Berita penghargaan Nobel itu langsung mendominasi berbagai acara di TV, seketika menghentikan siaran langsung terhadap LCROSS dan hanya digantikan oleh still caption tanpa penjelasan apapun.

Hasil dari tumbukan LCROSS tidak pernah diumumkan ke publik. Tidak seperti ketika Chandrayaan-I menemukan komponen air di Bulan, NASA tidak pernah menjelaskan apakah misi LCROSS menemukan air atau tidak. NASA hanya menjelaskan bahwa misi penabrakan LCROSS ke Bulan telah berhasil. Berhasil dalam hal apa, itu yang masih menjadi pertanyaan besar. Tapi yang lebih aneh lagi, dalam video live detik-detik saat tumbukan di www.nasa.gov, gambar di monitor tiba-tiba berubah menjadi hitam/menghilang 10 detik sebelum probe pembawa seharusnya menabrak permukaan Bulan. Padahal seharusnya gambar menghilang pada saat terjadi tabrakan?

Foto-foto yang dijanjikan oleh NASA akan muncul secara live juga tidak pernah muncul. Yang ada hanyalah still caption dari permukaan Bulan tanpa penjelasan apa-apa. Foto-foto yang muncul sehari kemudian di website NASA tidak dapat meyakinkan bahwa proses tumbukan berhasil dengan sukses. Selain itu, NASA juga meramalkan bahwa ledakan akibat tumbukan tersebut dapat disaksikan dengan menggunakan teleskop amatir. Namun demikian, kenyataannya hampir semua teleskop tidak melihat tumbukan tersebut. Bahkan teleskop angkasa luar Hubble yang tadinya akan merekam kejadian tersebut detik demi detik, malah tidak muncul dengan gambar apapun. Beberapa hari kemudian, barulah muncul foto di website NASA, namun apakah foto itu asli ataukah hasil rekayasa yang kini sangat mudah dilakukan?

Foto tumbukan Centaur di permukaan Bulan, muncul beberapa hari sesudahnya

Dengan semua keanehan tersebut, sampai saat ini tidak ada pihak yang mempertanyakan secara resmi mengenai keberhasilan misi LCROSS yang dibiayai oleh pembayaran pajak warga negara AS ini, apalagi di saat krisis yang melanda AS saat ini tentunya yang diperlukan adalah efisiensi.

Keanehan-keanehan itu tentu saja menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di kalangan publik, terutama yang menyoroti transparansi dan integritas NASA dalam hal dunia keilmuan. Apakah NASA benar-benar sudah ’ditunggangi’ oleh militer AS, sehingga titik beratnya lebih condong ke arah aspek pertahanan dan intelijen militer?

Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa terjadi public disinformation dari NASA. NASA sepertinya memang menghindari ’sesuatu’ di Bulan. Penulis belum mau mengatakan makhluk asing atau bukan, karena penulis memang belum pernah melihat buktinya secara langsung. Tapi sesuatu yang membuat NASA tiba-tiba menghentikan misi Apollo secara tiba-tiba dan juga menghentikan misi berawak ke Bulan selama 30 tahun belakangan ini, pasti sesuatu yang besar. Sudah banyak sekali kesaksian dari astronot-astronot NASA yang menyatakan bahwa di Bulan sudah terdapat kehidupan ‘lain’. Foto-foto yang diambil oleh para astronot itu pun disimpan, bahkan sebagian direkayasa oleh NASA. Neil Armstrong bahkan pernah keceplosan ketika diwawancara, dan mengatakan bahwa ‘they warned us off’. Berikut rekaman radio dari Apollo 11 yang legendaris begitu melakukan pendaratan di Bulan:


Apollo 11: What was it? What the hell was it? That's all I want to know!"
Mission Control: What's there?... malfunction (garble) ... Mission Control calling Apollo 11 ...

Apollo 11: These babies were huge, sir!... Enormous!... Oh, God! You wouldn't believe it! ... I'm telling you there are other space-craft out there... lined up on the far side of the crater edge! ... They're on the Moon watching us!

Apollo 11: Those are giant things. No, no, no - this is not an optical illusion. No one is going to believe this!

Houston (Christopher Craft): What... what... what? What the hell is happening? What's wrong with you?

Apollo 11: They're here under the surface.

Houston: What's there? (muffled noise) Emission interrupted; interference control calling 'Apollo 11'.

Apollo 11: We saw some visitors. They were here for a while, observing the instruments.

Houston: Repeat your last information!

Apollo 11: I say that there were other spaceships. They're lined up in the other side of the crater!

Houston: Repeat, repeat!

Apollo 11: Let us sound this orbita... in 625 to 5... Automatic relay connected ... My hands are shaking so badly I can't do anything. Film it? God, if these damned cameras have picked up anything - what then?

Houston: Have you picked up anything?

Apollo 11: I didn't have any film at hand. Three shots of the saucers or whatever they were that were ruining the film

Houston: Control, control here. Are you on your way? What is the uproar with the UFOs over?

Apollo 11: They've landed here. There they are and they're watching us.
Houston: The mirrors, the mirrors - have you set them up?

Apollo 11: Yes, they're in the right place. But whoever made those spaceships surely can come tomorrow and remove them. Over and out.


Pada beberapa tahun terakhir ini, muncul isu-isu yang menyebutkan bahwa pendaratan NASA di Bulan adalah rekayasa semata, dan video pendaratan itu sebenarnya dibuat di dalam studio. Isu ini didukung oleh berbagai foto yang menunjukkan keanehan pencahayaan, sehingga orang-orang percaya bahwa isu itu benar. Penulis menganggap isu itu justru disebarluaskan oleh NASA sendiri, untuk menutupi suatu hal yang lebih besar lagi. Dengan munculnya isu itu, orang-orang tidak akan mempertanyakan apa yang telah dilihat oleh para astronot, ataupun mempertanyakan obyek bebatuan yang dibawa dari Bulan. Hal ini terbukti dari bukti foto satelit LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter) yang diluncurkan pada awal Oktober 2009, membuktikan bahwa pendaratan di Bulan memang benar-benar terjadi.

Tak kalah menariknya, keberadaan makhluk asing selalu dideteksi oleh para astronot hampir di setiap misi Apollo. Salah satu astronot Apollo 13, James Lovell, ketika melintas di sisi gelap Bulan bahkan memberikan kode “Please be informed that there is a Santa Claus,” dimana ‘Santa Claus’ adalah kode untuk pesawat yang tak dikenal. Lebih jauh lagi, William Rutledge, salah satu astronot Apollo 20 yang misinya dirahasiakan oleh NASA akhirnya membocorkan informasi ke media dan menyatakan bahwa misi mereka adalah mengangkat pesawat asing yang terdampar di sisi gelap Bulan.

Pesawat asing yang terdampar di sisi gelap Bulan, yang diangkat oleh misi Apollo 20

Oleh sebab itulah, ketika NASA akan meneruskan kembali misinya ke Bulan pada tahun 1994, mereka membutuhkan suatu jaminan bahwa misinya tidak ’diganggu’, maka NASA menggandeng militer AS sebagai ‘bodyguard’. Tentu saja imbalannya ilmuwan NASA juga bekerja untuk kepentingan militer, seperti membangun Naval Space Command dan juga membuat senjata a la Star Wars. Oleh karena itu strategi yang digunakan NASA untuk kembali ke Bulan pun dengan mengirimkan probe dan satelit mata-mata, untuk memetakan permukaannya. Jepang, Eropa, Rusia, China, dan India pun melakukan hal yang sama. Yang orang-orang tidak ketahui bahwa sebenarnya AS dan negara-negara itu bekerjasama dalam menghadapi ‘musuh’ yang sama (common enemy), sehingga NASA baru bergerak setelah negara-negara tersebut mengirimkan probe-nya untuk memetakan permukaan bulan dengan sudut pandang berbeda-beda. Perlu ditekankan disini bahwa masing-masing negara sudah mempunyai misi sendiri-sendiri sebagai vantage point, tapi tujuan utamanya tetap satu yaitu memetakan tanah ‘musuh’. NASA dan AS sengaja untuk ‘berbagi tugas’ dengan negara-negara lain, sebab pemetaan itu membutuhkan anggaran yang sangat besar, tidak mungkin dibiayai sendiri oleh AS. Setelah India mengumumkan bahwa probe Chandrayaan-I telah menemukan komponen air di Bulan, hal itu seolah menjadi ‘kode’ bahwa pemetaan telah dilakukan secara lengkap dan NASA beserta militer AS meneruskan eksperimennya dengan misi LCROSS.

Lebih jauh lagi, misi LCROSS sebenarnya bukan misi mencari air, tapi benar-benar misi pengeboman dengan hulu ledak tinggi. Setelah dilakukan pemetaan oleh probe-probe negara lain tadi, kini NASA sudah mendapatkan gambaran menyeluruh tentang permukaan Bulan. Informasi itu di-upload ke satelit mata-mata LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter), yang diluncurkan bersamaan dengan LCROSS. Satelit itulah yang kini mengirimkan berbagai informasi mengenai Bulan dan aktivitasnya ke NASA dan Pentagon, yang berfungsi sebagai ujung tombak pertahanan Bumi, khususnya Amerika Serikat. Agar penempatan posisi LRO di orbit Bulan dapat berjalan dengan lancar, maka LCROSS-lah yang ’bertugas’ untuk melindungi dan berfungsi sebagai pengalih perhatian agar proses penempatan satelit itu berjalan lancar. Tapi memang paranoia AS itu terbukti, dan siapapun atau apapun yang tinggal di Bulan ternyata sanggup mengantisipasi serangan itu.

Ketika probe Centaur ‘ditembakkan’ ke permukaan Bulan, seharusnya muncul ledakan besar ketika probe itu menyentuh permukaan Bulan. Tapi ledakan itu tidak terjadi atau tidak terlihat sampai ke Bumi, seperti yang tadinya diklaim oleh NASA. Itukah penyebab NASA mengalihkan pemberitaan secara mendadak ke Obama yang memenangkan Nobel perdamaian? Kemudian apabila dilihat dari website NASA yang menyiarkan terus peristiwa itu, menjelang kedua probe LCROSS ditabrakkan ke Bulan, terdapat peningkatan panas permukaan Bulan. Bukankah Bulan tidak aktif? Mengapa muncul panas di permukaan Bulan? Dan akhirnya, 10 detik sebelum waktu tabrakan yang sebenarnya, layar monitor sudah gelap pertanda kameranya sudah mati/hancur. Apakah ada yang menghalangi probe itu untuk menabrak bulan? Pertanyaan lebih lanjut, apakah probe itu ditembak?

Penulis masih menerka-nerka apa yang menggagalkan LCROSS. Sekali lagi, belum tentu bahwa ada makhluk asing yang menghuni Bulan. Kalaupun ada, mengapa selama ini mereka tidak berkomunikasi dengan kita? Atau apakah selama ini komunikasi sudah dilakukan, namun dirahasiakan oleh pihak-pihak tertentu? Tapi juga terdapat kemungkinan lain, bahwa sebenarnya Bulan sudah tak dihuni makhluk hidup, namun karena Bulan dulunya dibuat oleh manusia atau makhluk lain dan dijalankan dengan super-komputer, mungkin saja super-komputer itu masih ada sampai saat ini dan menciptakan mekanisme pertahanan diri menghadapi serangan apapun. Dulu, mungkin mekanisme itu dibuat untuk melindungi Bulan dari hujan meteor. Sekarang, setelah jutaan tahun, sensor pertahanannya pun makin melemah dan hanya bereaksi terhadap serangan yang bersifat besar, antara lain LCROSS. Mungkin, AS (NASA dan Pentagon) sudah mengetahui adanya super-komputer di Bulan sejak berjalannya misi Apollo pada akhir tahun 60-an. Agaknya hal itu yang menyebabkan NASA merahasiakan misi Apollo 18, 19, dan 20 dan kerjasamanya dengan pihak Uni Soviet, untuk melakukan konsolidasi internal sambil bersama dengan ilmuwan Rusia menelaah super-komputer Bulan, yang jelas-jelas berada di luar jangkauan pengetahuan mereka. Sementara itu, militer AS rupanya masih meneruskan kebijakan “Star Wars” yang dicetuskan oleh Presiden Ronald Reagan pada tahun 80-an. Selain membangun Naval Space Command secara rahasia, Pentagon juga mengembangkan misil antar planet. Sebagai sarana eksperimen misil itu, dipakailah Bulan dan pertahanan super-komputernya sekaligus untuk mengetahui sejauh mana tingkat sensitivitas dari sistem pertahanan tersebut. Percobaan pertama berupa uji coba misil tersebut memang dapat dikatakan berhasil, dengan biaya yang tidak terlalu tinggi (US$79 juta) Pentagon berhasil meluncurkan misil ke luar atmosfer Bumi. Tinggal dilakukan modifikasi terhadap hulu ledaknya, dan voila! Terciptalah misil antar planet yang pertama di Bumi, sanggup menghancurkan berbagai macam obyek angkasa luar. Percobaan kedua juga dapat dikatakan berhasil, yaitu mengetahui sensitivitas sistem pertahanan super-komputer Bulan. Paling tidak, meski jutaan tahun di bawah debu kosmik tapi masih bisa melindungi diri dari ancaman yang berkecepatan 10.000 km/jam. Dengan demikian, sekarang ilmuwan-ilmuwan NASA tinggal mencari jalan untuk mengendalikan super-komputer itu. Apabila berhasil, maka Bulan dapat menjadi pelindung Bumi apabila ada ancaman tabrakan meteor dan sebagainya. Namun sisi buruknya, ‘penguasa’ Bulan juga dapat mentarget kota-kota atau negara manapun di Bumi demi kepentingannya sendiri seperti halnya HAARP. Oleh karena itulah NASA selama 40 tahun terakhir diam-diam mencari jalan untuk ‘menaklukkan’ Bulan, namun tampaknya sampai sekarang masih belum berhasil.
Bagaikan pungguk merindukan Bulan…

Wednesday, September 9, 2009

The Greatest Beatles Urban Legend


Tanggal 9 September selalu diperingati sebagai The Beatlemania International Day, atau lazim disebut B-Day. Momen 09-09-09 pun ditandai dengan peluncuran kembali seluruh album The Beatles ke dunia musik, dan juga tak ketinggalan adalah videogame The Beatles: Rock Band yang menyuguhkan keunikan masing-masing anggota band yang juga dijuluki “The Fab Four” itu.

Kita semua tahu bahwa The Beatles adalah salah satu fenomena musik terbesar di abad ke-20, yang menancapkan tonggak musik modern yang jauh lebih maju di masanya. Banyak sekali pengaruh musik The Beatles terhadap band-band musik yang muncul sesudahnya, bahkan sampai sekarang. Lagu-lagunya pun banyak sekali dinyanyikan ulang oleh banyak musisi, tak terbatas di genre rock namun juga pop, jazz, country, orchestra, bahkan samba dan bossanova. Penggemarnya tersebar luas menembus batas negara, bangsa, gender, maupun umur. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa bayi dalam kandungan dan anak-anak balita yang diperdengarkan lagu-lagu The Beatles cenderung akan memiliki keseimbangan otak kanan dan kiri yang lebih baik. Begitu dahsyatnya pengaruh The Beatles, sehingga hak atas penjualan lagu-lagunya pun diperebutkan di kalangan eksekutif musik bahkan Michael Jackson juga membeli hak atas 250 lagu The Beatles pada pertengahan 1980-an (ditandai dengan merilis lagu ‘Come Together’ dalam film Moonwalker).

Tapi mungkin
sebagian dari kita pernah mendengar bahwa pada tahun 1966, ketika dalam masa jayanya, The Beatles pernah didera oleh berita yang sangat menggemparkan dunia musik, yaitu meninggalnya Paul McCartney, sang bassist kidal. Walaupun berita kematian itu dibantah oleh pihak manajemen The Beatles sejak tahun 1966, namun sampai sekarang Sir Paul sendiri masih kerepotan menjawab pertanyaan dari wartawan mengenai berita itu. Sebab masih ada banyak orang yang menganggap berita itu adalah benar, dan Paul McCartney yang masih aktif di dunia musik itu adalah aktor/penyanyi yang wajah dan suaranya mirip dengan Paul yang meninggal pada tahun 1966 itu. Luar biasa bukan?

Sebenarnya apa peristiwa yang memicu berita yang menghebohkan pada tahun 1966 itu? Alkisah pada hari Rabu tanggal 9 November 1966, The Beatles sedang merampungkan album kompilasi sebagai bagian dari kontrak dengan perusahaan rekaman EMI (album ini nantinya diberi judul ‘Oldies…. But Goodies’). Keputusan untuk membuat album komp
ilasi ini muncul karena The Beatles terlalu sibuk membuat album ‘Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band’ yang tidak bisa kelar tepat waktu. Seperti biasa, pertengkaran selalu mewarnai suasana studio rekaman. Setelah semalaman bertengkar dengan ketiga temannya, Paul memutuskan untuk keluar dari studio Abbey Road. Jam menunjukkan menjelang pukul 5.00 pagi dan di luar sedang hujan lebat.

Paul masuk ke dalam mobil Austin Healey miliknya dan ketika mobil baru saja berjalan, dia melihat seorang perempuan sedang berjalan di tengah hujan, sepertinya kedinginan. Lalu Paul pun menawarkan tumpangan kepada perempuan itu. Rupanya dia tidak tahu bahwa orang yang memberikan tumpangan adalah Paul McCartney, tapi lama kelamaan dia menyadarinya dan seperti fan-fan The Beatles lainnya pada waktu itu, perempuan itu tiba-tiba berteriak-teriak histeris dan
menarik-narik rambut dan baju Paul yang sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Kepanikan itu membuat Paul kehilangan kendali atas mobilnya. Dia menerobos lampu merah dan kemudian menabrak sebuah lori/gerbong kereta berwarna kuning yang mengakibatkan mobilnya terbalik dan akhirnya menghantam tiang telegraph. Perempuan itu berhasil mengeluarkan diri dari mobil, lalu kembali untuk menolong Paul. Tapi mobil sudah keburu terbakar dan perempuan itupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jari-jari Paul patah sehingga dia tidak bisa membuka handle pintu dan meloloskan diri. Terperangkap di mobil, orang-orang yang melihat kejadian itupun tidak dapat berbuat apa-apa karena api semakin membesar. Di antara orang-orang itu ada yang menelepon polisi dan pemadam kebakaran, dan tak b
erapa lama kemudian mereka pun datang. Tapi sayangnya sudah terlambat, ketika Paul akan ditolong tiba-tiba mobilnya meledak sehingga mengakibatkan kepala Paul terpisah dari badannya. Paul meninggal dunia pada 9 November 1966 jam 05.00 pagi.

Orang-orang yang menonton itu tidak tahu siapa korban kecelakaan yang meninggal itu, mereka hanya menganggap wajahnya familiar, tapi karena rambutnya sudah habis terbakar mereka tidak tahu pasti. Identifikasi terhadap jenazah dengan menggunakan dental record juga terkendala karena beberapa giginya rontok akibat kecelakaan yang mengerikan itu.

Tapi ternyata ada seorang wartawan yang mengikuti setiap gerak gerik Paul semenjak dia keluar dari studio Abbey Road, sehingga tak pelak dia menyaksikan seluruh peristiwa yang terjadi. Ketika jenazah Paul dievakuasi oleh Polisi, dia pun segera bergegas ke kantornya untuk menulis berita tentang kejadian nahas itu, untuk dimuat dalam surat kabar terbitan pagi itu juga. Sementara itu, Polisi pun mengecek plat nomor mobil itu dan mengetahui pemiliknya adalah Paul McCarney. Segera mereka menelpon Brian Epstein, manager The Beatles, untuk mengabarinya. Setelah diberitahu oleh Polisi mengenai wartawan yang mencatat seluruh peristiwa
itu, Epstein pun mengontak kantor surat kabar tempat asal wartawan itu untuk mengetahui apa headline yang akan keluar. Ternyata headline-nya adalah mengenai peristiwa itu, sehingga Epstein menyuap mereka untuk menghentikan pencetakannya dan menghancurkan semua surat kabar yang telah tercetak. Langkah berikutnya adalah menyuap polisi yang mengecek plat nomor tadi. Rencana Epstein adalah memberikan waktu sejenak untuk berpikir dan berdiskusi dengan anggota The Beatles lainnya mengenai langkah apa yang harus dilakukan.

Anggota band yang lain tentunya sangat terkejut, dan sangat berduka atas kematian sahabatnya itu. Namun demikian, karena The Beatles sedang berada di puncak kreativitas, dan juga karena mereka terikat dengan terlalu banyak deal dan kontrak yang akan merugikan apabila diakhiri, mereka memutuskan untuk tetap jalan terus. Tapi masalahnya adalah siapa yang akan menggantikan Paul se
bagai pemain bass. Masalah ini menimbulkan perdebatan, karena apabila muncul anggota baru pasti akan menimbulkan histeria massa karena sudah ada trademark “The Cute Beatle” untuk Paul sehingga jumlah penggemar pasti akan berkurang. Belum lagi pihak-pihak yang marah karena keputusan untuk menyimpan berita kematian Paul tersebut. Akhirnya Epstein, Lennon, Harrison, dan Starr memutuskan untuk mengganti Paul dengan orang yang mirip dengannya.

Mencari orang yang benar-benar mirip sangat sulit dilakukan, tapi kemudian dilakukan dengan mengadakan lomba ‘Paul Look-a-like’ yang terbuka di kalangan publik, dengan juri yang professional tapi tidak mengetahui tujuan lomba yang sebenarnya. Pemenang lomba ini bernama William Campbell yang bekerja di Kantor Polisi di Ontario, Canada. Setelah memenangkan lomba in
i, Campbell diberitakan menghilang dari Ontario. Pantas saja dia menghilang, karena sejak itu namanya berubah menjadi Paul McCartney.


Walau Campbell sangat mirip dengan Paul, tapi ada beberapa detail yang harus diperbaiki dengan operasi plastik, antara lain bibir atas dan alisnya. Pada akhirnya, Campbell benar-benar tidak dapat dibedakan dari Paul, dan anggota band yang lain pun percaya bahwa rencana itu akan berhasil.

Tapi rupanya ada masalah lain, aksen Campbell adalah Scottish, sehingga dia harus menjalani terapi wicara supaya dapat beraksen Liverpudlian seperti Paul. Dan walaupun dia bisa memainkan bass, dia tidak kidal seperti Paul. Oleh karena itu ketika di dalam studio dia bisa memainkan bass dengan tangan kanan, namun ketika di panggung dia harus ‘berakting’ kidal. Mungkin itu yang menyebabkan The Beatles memutuskan untuk tidak bermain musik di panggung lagi sejak tahun 1967, setahun setelah kematian Paul.

Kematian Paul, walaupun sudah ‘digantikan’ oleh William Campbell, tak pelak menimbulkan kedukaan mendalam bagi anggota band yang lain. John, George, dan Ringo telah kehilangan tak hanya partner dalam menciptakan lagu-lagu yang hebat, namun juga kehilangan seorang sahabat. Tapi mereka tidak dapat mengungkap kesedihan itu secara terbuka, karena akan mencederai marketing yang dijalankan oleh pihak manajemen The Beatles. Dengan fans yang tersebar di seluruh belahan dunia dan juga kekayaan dari hasil penjualan album yang saat itu berada di atas musisi lain di seluruh dunia, tentunya pihak manajemen tidak mau mengambil risiko sekecil apapun akibat kematian Paul ini. Oleh karena itu, ekspresi duka mereka ternyata tertuang dalam banyak lagu yang tercipta setelah peristiwa itu.


Album ‘Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band’

Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band
"Let me introduce to you, the one and only Billy Shears..."
Kenapa tiba-tiba John memperkenalkan Billy Shears, siapakah Billy Shears itu? Ada banyak yang berpendapat bahwa dia sebenarnya bukan menyebutkan Billy Shears, tapi “Billy’s here.” Seperti kita ketahui Billy adalah nama panggilan untuk William.

"Billy Shears!"
Dinyanyikan pada akhir lagu, sebelum lagu 'With a Little Help From my Friends' dimulai. Apabila diputar ulang secara terbalik akan berbunyi “Fish is dead”.

Getting Better
"I have to admit it's getting better, a little better all the time."
Apabila diputar ulang terbalik akan berbunyi "After all, Paul is dead. He lost his hair, head."

Fixing a Hole
"I'm fixing a hole where the rain gets in and stops my mind from wandering."
Apakah ini terkait dengan luka (lubang) di kepala Paul ketika kecelakaan (kejadiannya waktu hujan/rain), yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan otaknya (mind) tercecer ke luar?

She's Leaving Home
"Wednesday morning at 5 o'clock as the day begins." (Hari dan jam kematian Paul)

Within You Without You
"Never glimpse the truth, then it's far too late as they pass away." (Jangan tunjukkan kebenaran)
"If they only knew." (Seandainya mereka tahu apa?)
"We were talking about the love that's gone so cold." (Love diartikan sebagai Paul yang menjadi dingin/mati)
"And the people who gain the world but lose their soul." (William Campbell mendapatkan dunia Paul, tapi kehilangan jiwanya sendiri)
"And life flows on within you and without you." (The Beatles tetap hidup dengan Paul dan tanpa Paul).

Good Morning Good Morning
"Nothing to do to save his life, call his wife in."

Sgt Pepper Reprise
"1... 2... 3... 4..."
Pada hitungan ketiga, John membisikkan kata “Bye”. Di cover belakang album, Paul adalah orang ketiga dari urutan kiri ke kanan.

"Sgt. Peppers lonely hearts... (Paul is dead!) club... (Really dead!) band."
Kalimat “Paul is dead” harus didengarkan dengan teliti, karena tenggelam oleh suara lainnya. Akan terdengar jelas apabila menggunakan OOP (Out Of Phase) effect.

A Day in the Life
"He blew his mind out in a car. He didn't notice that the lights had changed. A crowd of people stood and stared. They'd seen his face before, nobody was really sure if he was from the house of Lords."
Apakah ini cerita tentang kecelakaan Paul? “Blew his mind out” juga bisa berarti kepalanya terpenggal. “Lights had changed” karena Paul tak melihat lampu merah yang berubah. “House of Lords” karena Paul saat itu sudah diberi gelar Knight oleh kerajaan Inggris.
Album ‘Magical Mystery Tour’

Magical Mystery Tour
"Roll up! Roll up for the mystery tour."
Kira-kira 48 detik ketika lagu akan dimulai terdengar suara mobil kecelakaan.

I Am The Walrus
"Sitting on a cornflake waiting for the van to come."
“Cornflake” adalah sereal yang biasa dimakan pagi hari (jam kecelakaan adalah jam 5.00 pagi). “The van” adalah ambulans yang akan datang menolong.
"Goog goog ga joob."
Ini adalah kata-kata terakhir dari tokoh kartun Humpty Dumpty sebelum jatuh dan kepalanya terbelah.
"Pretty little policemen in a row." (Polisi yang menolong ketika kecelakaan?)
"New man, they take the fortune."
Kalimat ini terdengar di tengah-tengah lagu, sebelum final verse. Apakah „New man“ adalah William Campbell?
"Oom pah, oom pah, stick it oop ya joompah."
Apabila diputar terbalik akan terdengar "Ha, ha, Paul is dead. Ha, ha, Paul is dead..."

Hello Goodbye
"You say goodbye and I say hello."
Paul yang berkata goodbye dan William berkata hello?

Strawberry Fields Forever
"It's getting hard to be someone." (William kesulitan menjadi Paul?)
"Nothing is real."
Apa yang tidak nyata? Di akhir lagu, George membunyikan gitarnya seperti suara sirine ambulans.
"I buried Paul."
Kalimat yang diucapkan John di akhir lagu ini kedengarannya seperti 'cranberry sauce'

All You Need is Love
"Nothing you can say but you can learn how to play the game."
Menunjukkan bahwa anggota yang lain tidak dapat berkata apa-apa, tapi hanya ikut bersandiwara saja.
"Nothing you can do but you can learn how to be you in time."
Nasehat John kepada William untuk menjadi Paul?
"Yes he's dead. We loved you yeah, yeah, yeah. Loved you yeah, yeah, yeah."
Tiba-tiba dinyanyikan oleh John diakhir lagu. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh Paul.


Album ‘The White Album’

While My Guitar Gently Weeps
"Paul, Paul, Paul, Paul..."
Dibisikkan oleh George pada akhir lagu.

I'm So Tired
"Paul is dead man. Miss him, miss him, miss him!."
Apa yang dibisikkan oleh John di akhir lagu terdengar tidak jelas, namun apabila diputar terbalik akan terdengar kalimat di atas.

Don't Pass Me By
"I'm sorry that I doubted you, I was so unfair. You were in a car crash and you lost your hair..."

Why Don't We Do It in the Road?
"Why don't we do it in the road?"
Apabila diputar terbalik akan terdengar "Paul, really dead. I really want it out."

Birthday
"I would like you to dance. (Birthday) Take a cha-cha-cha-chance."
Apabila diputar terbalik akan terdengar "He's dead, yes, yes, yes, yes, yes. (Dead, dead) He's dead, we sing hallelujah."

Yer Blues
"Paul McCartney, wanna die."
Dibisikkan oleh John di bagian akhir lagu.

Revolution #9
"Number nine."
Dua kata ini diucapkan 13 kali. Nama ‘Paul McCartney’ memiliki 13 huruf dan ‘McCartney’ memiliki 9 huruf.
"My fingers are broken and so is my hair."
Keterangan mengenai jari Paul yang patah dan rambut yang terbakar.
"He hit a pole. We'd better get him to see a surgeon."
Paul menabrak tiang (pole)
"So anyhow he went to the dentist instead. They gave him a pair of teeth that weren't any good at all."
Gigi Paul rontok ketika kecelakaan


Album ‘Yellow Submarine’

All Together Now
"All together now. All together now. All together now. All together now."
Apabila diputar terbalik akan terdengar 'I buried Paul'.
Album ’Abbey Road’

You Never Give Me Your Money
"Yellow lorry slow, nowhere to go."
Lori/gerbong kereta kuning adalah yang ditabrak Paul sebelum tewas.
"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, all good children go to heaven."
Angka 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 apabila dijumlah menghasilkan 28, umur Paul ketika tewas kecelakaan.

She Came in Through the Bathroom Window
"And so I quit the police department, got myself a steady job."
William Campbell adalah polisi di Ontario, Canada sebelum mengikuti lomba “Paul Look-a-like.”


Album ‘Let It Be’

Let It Be
"I woke up to the sound of music, mother Mary comes to me."
Apakah ini ilustrasi Paul yang terbangun di surga dan disambut ibunya yang bernama Mary?
"Let it be, let it be. Let it be, let it be..."
Apabila diputar terbalik akan terdengar "He's dead"

I've Got a Feeling
"All these years I've been wandering around wondering how come nobody told me. All that I was looking for was somebody who looked like you."

Get Back
"Get back! Get back! Get back to where you once belonged."
Apabila diputar terbalik akan terdengar "Help me! Help me! I need some wheels!.”


Album ‘Past Masters II’

Lady Madonna
"Wednesday morning papers didn't come."
Surat kabar hari Rabu 6 November 1966 itu tidak terbit karena ditarik oleh Epstein.


Lirik-lirik lagu yang menggambarkan peristiwa kematian Paul itu hanyalah sebagian, masih terdapat clue-clue lain yang didapat dari foto-foto Paul sebelum dan sesudah tahun 1966, dimana Paul tiba-tiba bertambah tinggi beberapa inci. Selain itu, pada berbagai videoklip The Beatles setelah tahun 1966 juga terdapat berbagai clue mengenai tewasnya Paul, termasuk videoklip lagu “Free As a Bird” yang dirilis pada tahun 1995 di album “Anthology”.

Percaya atau tidak, urban legend ini sampai sekarang masih menjadi misteri.

Monday, September 7, 2009

China Kuno Yang Menyimpan Enigma


The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor sudah saya tonton setidaknya 3 kali. Satu kali di bioskop, satu kali di DVD, dan satu kali ketika diputar di salah satu layanan TV berlangganan. Film ini disutradarai oleh Rob Cohen (The Fast and The Furious, Stealth), berbeda dengan dua film Mummy sebelumnya yang disutradarai oleh Stephen Sommers (Van Helsing, G.I.Joe: The Rise of Cobra). Dengan sutradara yang berbeda, maka nuansa yang disajikan pun berbeda dengan film sebelumnya. Walaupun demikian, Sommers masih berperan penting dalam menentukan alur cerita film ini sebagai produser dan penulis naskah. Oleh karena itu, pengembangan karakter keluarga O’Connell juga tidak mengalami perubahan dari film sebelumnya walaupun Evelyn O’Connell yang tadinya diperankan oleh Rachel Weisz digantikan oleh Maria Bello, juga Alex yang dikisahkan sudah dewasa dan diperankan oleh Luke Ford (namun lucunya, aksen Inggrisnya pada film sebelumnya berubah menjadi aksen Amerika).

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa fokus eksplorasi cerita kali ini tidak lagi menyangkut Mesir, namun mengambil setting di China yang dikisahkan memiliki sejarah bernuansa supranatural, khususnya pada saat pemerintahan Kaisar Han (Jet Li), seorang warlord yang menjadi kaisar pertama di China, mempunyai julukan The Dragon Emperor. Sebagai titah pertamanya, Kaisar Han memerintahkan untuk membangun Tembok Besar China yang memakan jutaan korban penduduk akibat kerja paksa. Saya tidak akan meneruskan ceritanya karena saya yakin sebagian besar pembaca sudah tahu. Intinya bahwa seorang penyihir bernama Zi-Yuan (Michelle Yeoh) membacakan mantera Sanskrit yang diambil dari sebuah buku kuno dari ranah India sehingga sang Kaisar dan seluruh pasukannya berubah menjadi tanah liat, dikenal dengan nama Terracota Army. Kaisar Han dan pasukan Terracota inilah yang dikemudian hari ditemukan oleh Alex O’Connell dan bangkit kembali dengan tujuan menguasai dunia.

Rasa-rasanya, penggunaan judul “The Mummy” ataupun penyebutan “mummy” untuk Kaisar dan pasukannya kurang tepat. Sebab tidak ada yang melalui proses mumifikasi seperti halnya Imhotep pada film “The Mummy” yang pertama. Satu-satunya mummy di film ini hanyalah tubuh yang terbaring di dalam peti mati Kaisar yang ditusuk oleh Lin (anak dari Zi-Yuan) yang ternyata hanya untuk mengalihkan perhatian.

Ditinjau dari sisi sejarah, kaisar China yang pertama adalah Qin Shi Huang. Dia memang yang membuat salah satu bagian tertua dari Tembok Besar China pada tahun 220 SM, yang kemudian dibangun ulang dan diperpanjang oleh kaisar-kaisar dan dinasti penerusnya. Selain itu, Qin Shi Huang juga membangun mausoleum yang berisikan ribuan Terracota Army. Pembangunan mausoleum seisinya ini dimulai pada tahun 246 SM, dan memakan waktu 38 tahun dan menggunakan 700.000 pekerja dan pengrajin. Konon, Qin Shi Huang juga dimakamkan di dalam mausoleum ini ketika meninggal pada tahun 210 SM. Mungkin referensi Qin Shi Huang inilah yang mendasari karakter Kaisar Han dalam film ini.


Selain itu, dalam film ini juga disuguhkan berbagai legenda yang berkembang di China dan Himalaya seperti naga, Shangri-La, dan yeti. Sedikit juga disinggung mengenai kitab-kitab India yang mengungkap rahasia alam, termasuk penguasaan 4 materi alam: tanah, udara, air, dan api. Kalau kita lihat dengan seksama, banyak sekali legenda kuno yang berusaha untuk diungkapkan di film ini. Namun anehnya, ada satu legenda yang tidak disinggung-singgung sama sekali di film ini, walaupun legenda ini sangat terkait erat dengan sejarah bangsa China. Yaitu legenda tentang piramida China.

Yup, piramida bukan hanya ada di Mesir dan Amerika Latin. Bahkan Candi Borobudur kebanggaan kita dan Candi Sukuh (foto di bawah ini) di Tawangmangu, Jawa Tengah, juga dikategorikan sebagai piramida.

Di tepian sungai Mississippi di AS dan juga kawasan Polynesia juga ditemukan piramida. Namun tidak ada penemuan kompleks piramida sebanyak di China, yaitu sebanyak 38 buah piramida terletak 30 km di barat daya Xi’an, propinsi Shaanxi. Piramida China difoto pertama kali oleh seorang pimpinan Trans World Airlines (TWA) bernama Col. Maurice Sheahan yang sedang melintas pada tahun 1947, namun entah kenapa foto ini kemudian dirahasiakan oleh militer AS selama 45 tahun! Sheahan mengaku melihat piramida di China yang dihiasi oleh permata putih di ujung atasnya, namun tidak ada bukti nyata yang mendukungnya.



Ternyata selama bertahun-tahun itu pula pemerintah China juga berusaha merahasiakan eksistensi piramida-piramida tersebut. Bahkan sebagian besar diantaranya dijaga ketat oleh tentara (forbidden zone). Memang secara foto satelit yang dapat dilihat di Google Earth, sekilas memang kompleks piramida tersebut tidak kelihatan jelas karena sebagian besar tertutup rumput dan pepohonan. Tapi setelah kita amati dengan seksama, tampak jelas bentuk geometris dari piramida dengan sisi-sisinya yang simetris.



Saat ini, seiring dengan keterbukaan China, piramida-piramida ini pun sedikit demi sedikit mulai di-ekspos keberadaannya oleh Pemerintah China. Sebagian darinya bahkan sudah dibangun Visitor Centre, lengkap dengan tour guide yang siap mengantarkan kita berkeliling piramida.


Tapi tentunya hal ini masih belum menjelaskan kenapa selama 50 tahun belakangan China dan dunia terkesan menutupi keberadaannya, termasuk dalam film The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor. Padahal yang menarik, kompleks piramida Xi’an tersebut hanya berjarak 1,7 km dari lokasi ditemukannya Terracota Army yang menjadi fokus dalam film tersebut. Dan apabila selama ini piramida Mesir selalu masuk dalam keajaiban dunia, mengapa piramida China tidak pernah disinggung-singgung? Usia kompleks piramida tersebut lebih tua dari Tembok Besar China, dan jumlahnya jauh lebih banyak dari kompleks piramida Mesir.

Lebih jauh lagi, asal usul piramida ini juga masih menyimpan misteri yang tidak kalah menariknya. Secara fungsi, piramida-piramida ini memang berfungsi sebagai mausoleum atau makam dari kaisar-kaisar China. Mirip dengan fungsi piramida di Mesir. Namun secara fisik, bentuk dari piramida Xi’an sangat mirip dengan kompleks piramida di Teotihuacan, Mexico yang ujungnya rata (tidak lancip seperti piramida Mesir). Seperti diketahui, fungsi piramida di Amerika Latin adalah sebagai altar pemujaan serta pengorbanan terhadap dewa. Fungsi yang saling silang inilah yang membuat arkeolog di China pusing tujuh keliling selama beberapa dasawarsa terakhir ini, sampai sekarang.

Apakah memang kala itu penduduk China sudah melanglang buana hingga Mesir dan Amerika Latin, sehingga pulang dengan membawa hasil ”studi banding” berupa konsep makam para Kaisar yang kemudian direalisasikan oleh Kaisar pertama China, Qin Shi Huang? Atau apakah piramida-piramida tersebut sudah eksis dari sebelum Qin Shi Huang naik tahta seperti halnya piramida Mesir dan Sphinx yang sudah eksis sebelum pemerintahan Fir’aun yang pertama? Kalau begitu, apakah bangunan piramida adalah bangunan yang ”biasa” ditemukan pada peradaban prasejarah, mengingat legenda The Tower of Babylon juga berbentuk piramida? Apabila memang terkait dengan peradaban prasejarah, apakah ada kaitannya dengan penemuan reaktor nuklir di Gabon yang sudah berumur jutaan tahun? Kaitan tersebut saya kemukakan karena dalam kenyataannya, di daerah Gaozhuang, beberapa kilometer di selatan kompleks piramida Xi’an juga berdiri sebuah reaktor nuklir raksasa.

But who knows?